MA Darul Ulum Purwogondo

Jalan Kromodiwiryo Purwogondo RT 05 / RW 01 Kalinyamatan Jepara

Terbentuknya Peserta Didik yang Sholih dan Sholihah

EKSISTENSI NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI DALAM SASTRA DUNIA

Senin, 06 September 2021 ~ Oleh Muhammad Faizuddin, S.Kom. ~ Dilihat 408 Kali

EKSISTENSI NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI DALAM SASTRA DUNIA

Oleh : Khoirul Ummah Sholichah

 

Sastra menurut Lefevere adalah diskripsi pengalaman kemanusiaan yang memiliki dimensi personal dan sosial sekaligus, serta pengetahuan kemanusiaan yang sejajar dengan bentuk hidup itu sendiri.[1]Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab.[2]Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan sebuah kreasi bukan semata-mata sebuah imitasi. Karya sastra merupakan imajinasi pengarang yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian dinikmati oleh pembaca. Pengarang mempunyai bahasa yang khas dalam menuangkan hasil pikirannya ke dalam karya sastra seni kreatif, sastra menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupannya sebagai media dalam menyampaikan ide. Kehadiran karya sastra tidak pernah terlepas dari identitas pengarangnya karena sebuah karya sastra bersumber dari lingkungan atau masyarakat pengarang, sehingga suatu karya sastra mampu mengubah wacana dunia.

Ahmad Tohari merupakan sastrawan Indonesia yang tidak asing di panca indra dunia sastra karena karyanya yang melegenda. Salah satu karya Ahmad Tohari adalah Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Karya tersebut ditulis berdasarkan inspirasi tentang kegelisahan hidupnya di Banyumas tahun 1965. Novel Ahmad Tohari ini menjadi sebuah refleksi bagi kehidupan bermasyarakat yang menyimpan pesan sosial kebudayaan yang digarap pengarang secara apik. Novel ini mengambil cerita tentang seorang ronggeng pada tahun 1960-an dengan kehidupannya yang berliku dan bagaimana dia dalam berbaur dengan masyarakat dalam berbagai strata sosial.

Kemunculan novel ini pada awalnya juga mengundang kritik sastra yang luar biasa dari F. Rahardi lewat Majalah Horisson tahun 1984. Faktanya novel ini sampai dengan sekarang telah dicetak ulang oleh Gramedia untuk yang ketujuh kalinya. Fakta tersebut menandakan novel ini telah diterima secara luas dalam jagad sastra Indonesia.

Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap karya sastra Ahmad Tohari dengan judul “Eksistensi Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dalam Sastra Dunia”.

  1. Latar Sosial Budaya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari dilahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah pada tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya hanya sampai SMAN II Purwokerto. Namun demikian ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).[3] Dia pernah bekerja di BNI 1946 sebagai tenaga honorer yang mengurusi majalah perbankan (1966-1967), majalah keluarga (1978-1981), dan menjabat sebagai dewan redaksi majalah Amanah (Agustus 1986-Maret 1993).[4]

Ahmad Tohari merupakan pengarang karya sastra yang produktif. Beliau juga termasuk pengarang yang selalu memperhatikan bahasa sebagai bentuk perkembangan karya sastra sebagai karya seni. Beliau adalah sastrawan Indonesia dengan karya-karya khas dan berbobot. Salah satu kekuatan lebih Ahmad Tohari yang sulit ditemukan pada sastrawan lain adalah kepiawaiannya melukiskan alam pedesaan yang eksotis. Ditangannya panorama kehidupan pedesaan menjadi hidup dan menawan.

Ahmad Tohari melalui Ronggeng Dukuh Paruk, telah mengangkat kehidupan dengan cara pandang orang-orang dari lingkungan dekatnya ke pelataran sastra Indonesia. Adapun karya sastra Ahmad Tohari adalah Kubah (novel, 1980), Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk : (Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982), Lintang Kemukus Dinihari (novel, 1984), Jentera Bianglala (novel, 1985)), Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1989), Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1990), Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1993), Bekisar Merah (novel, 1993), Mas Mantri Gugat (kumpulan kolom, 1994), Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000), Belantik (novel, 2002), Orang Orang Proyek (novel, 2002), Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004), dan Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa jawa, 2006).[5]

  1. Resensi Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Novel dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk, yang ditulis oleh Ahmad Tohari, memiliki tebal buku 408 halaman, yang dicetak pada tahun 2003 di Gramedia Pustaka Utama yang diterbitkan pada tahun 1982.

Dukuh paruk merupakan sebuah dukuh yang kecil dan menyendiri. Dukuh paruk mempunyai seorang moyang yang dulunya sebagai bromocorah tetapi setelah meninggal orang-orang dukuh paruk pun memuja kuburanya. Bahkan kuburanya pun menjadi kiblat kebatinan mereka. Serintil merupakan seorang gadis kecil yang berumur sebelas tahun yang mempunyai masa lalu yang menyedihkan, akan tetapi Serintil mempunyai suatu kelebihan yang tak jarang dimiliki oleh orang-orang yaitu menari selayaknya seorang ronggeng. Suatu ketika ada tiga anak laki-laki sedang mencabut sebatang singkong di tanah kapur mereka adalah Rasus, Warta dan Dasun. Setelah singkongnya telah tercabut mereka pun sibuk mengupasinya dengan gigi mereka, seketika itu mereka melihat Serintil yang sedang asik menari sambil mendendang beberapa buah lagu kebangsaan Ronggeng lalu mereka pun menghampiri serintil dan ikut menari bersamanya.

Sakarya adalah kakeknya Serintil beliau sangat menyangi Serintil apalagi semenjak meninggalnya orang tua Serintil, kakeknya lah yang merawatnya. Pada waktu itu Sakarya pun mengikuti gerak-gerik Serintil ketika menari, sungguh sangat bangganya ketika melihat Serintil menari, dan kakeknya pun berpendapat bahwa serintil telah dirasuki oleh Indang Ronggeng.

Lalu keesokan harinya Sakarya menemui Kertareja seorang dukun Ronggeng didukuh Paruk. Mereka pun membicarakan kepandaian Serintil dalam menyanyi dan menari Ronggeng. Namun beberapa hari kemudian Sakarya dan Kartareja selalu mengintip Serintil ketika menari dibawah pohon nangka. Lalu Sakarya pun menyerahkan Serintil kepada Kertareja itu merupakan salah satu syarat dukuh paruk yang mengatur perihal seorang calon Ronggeng

Sudah dua belas tahun Ronggeng Dukuh Paruk telah mati adapun perkakas-perkakas yang selama ini mengiringi pementasan Ronggeng pun hampir rusak akan tetapi masih bisa digunakan, dan kini mulai mempersiapkan pementasan Ronggeng lagi setelah dua belas tahun telah hilang dan kini yang menjadi penari adalah Serintil, Serintil pun didandani oleh Nyi Kertareja selayaknya seorang Ronggeng dan tidak lupa Nyi Kertareja meniup matera pekasi keubun-ubun Serintil matera yang berkasiat memberikan suatu aura kecantikan dari yang sebenarnya, dan beberapa susuk emas dipasang oleh Nyai Sakarya di tubuh Serintil.

Di desa Dawuan, tempat pemuda Rasus mengasingkan diri, dia banyak merenung. Bayangan Srintil sebagai orang bayang-bayang Emaknya yang melebur dalam diri Srintil memintanya untuk menjadi suaminya, maka dengan tegas Rasus menolak. Karena Rasus sudah memutuskan bahwa biarlah dia mengalah dan biarlah serintil menjadi milik orang banyak, menjadi ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk.

Namun tidaklah semudah itu pada tahun 1965 tanpa diduga malapetaka politik membuat dukuh tersebut hancur tebakar, baik secara fisik maupun mental. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan karena diduga terlibat dalam PKI. Dari kejadian tersebut membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia dan setelah bebas ia berniat untuk memperbaiki citra dirinya dengan tidak lagi melayani lelaki manapun.

Keunggulan novel ini ialah mengkisahkan tentang nilai kemanusiaan dan penghormatan pada perempuan. Tokoh utama adalah Srintil merupakan simbol tokoh yang dijadikan sebagai semangat keperempuanan yang berjuang untuk keluar dari hitamnya zaman, dimana perempuan saat itu harus diperbudak oleh lelaki sebagai memenuhi hawa nafsu dan selalu dikekang dalam memilih kehidupannya sendiri. Selain itu novel ini sangat erat kaitannya dengan HAM, terutama lebih menekankan hak pribadi yang juga harus dimiliki seseorang (terutama perempuan). Novel ini juga mengajarkan kita untuk selalu sadar dan ingat sejarah. Sejarah dikaji sebagai suatu pedoman arah agar sejarah tak terulang di masa depan.

Kekurangan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah penceritaan yang tertele-tele dengan sisipan suasana desa yang begitu detail namun keluar dari alur cerita, sehingga cerita seolah menjadi tak konsisten dan terlalu jenuh untuk dibaca, Yang paling kental adalah banyaknya kata-kata yang sangat seronok dan kasar, seperti Asu Buntung, Bajul Buntung, dan sebagainya. Kata-kata seperti itu seharusnya ditiadakan saja.

  1. Pandangan Sastra Dunia Terhadap Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Ahmad Tohari adalah sastrawan yang sangat produktif dan karyanya mendapatkan banyak penghargaan dalam negeri dan Internasional, diantaranya: Cerpen berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Novelnya  Kubah (1980) memenangi hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980. Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986. Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. Pada tahun 1990 juga pernah mengikuti International Writing Programme di Iowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of  The University of Iowa. Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. Sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancage.[6]

Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah karya sastra yang sangat melambung tinggi keberadaanya dalam sastra dunia. Karya sastra ini telah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris. Ahmad Tohari adalah satu dari sedikit sastrawan Indonesia yang novelnya sudah diterbitkan di Jerman, yakni melalui kisah cinta yang berlatar tragedi 1965 Indonesia yaitu Ronggeng Dukuh Paruk (Die Taenzerin von Dukuh Paruk).[7]

Ahmad Tohari diundang ke Pameran Buku Leipzig, Leipziger Buchmesse, 12 s.d. 15 Maret 2015. Beliau didaulat sebagai pengisi acara pertama di gerai Indonesia. Dalam pekan kepenulisan di kota belahan timur Jerman itu, topik komunisme di Indonesia medio 1965 yang didalami Ahmad Tohari banyak diminati. Selain diskusi, mata acara di gerai Indonesia juga dilengkapi penayangan potongan film Sang Penari yang diadaptasi dari novel karangannya. Penampilan tarian oleh seorang ronggeng juga ditampilkan. Selain Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, kumpulan cerpen Mata Yang Enak Dipandang, akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan dijual di Negeri Panser itu. Ia akan berdampingan bersama Sembilan judul yang ditulis penulis Indonesia lain, sebagai titel yang dibeli hak cetak dan jualnya dalam helatan tersebut. Pada pertengahan Mei 2015, Ahmad Tohari juga mengunjungi Negeri Paman Sam untuk keperluan penerjamahan novel Bekisar Merah dalam bahasa Inggris.[8] 

Berbagai gambaran di atas menunjukkan bahwa Ahmad Tohari adalah sastrawan besar yang dimiliki bangsa Indonesia. Eksistensi Ahmad Tohari dalam dunia sastra Internasional telah diakui mancanegara. Dalam hal produktifitas karya dan penghargaan Internasional, Ahmad Tohari tidaklah kalah dari Pramudya Ananta Toer, Sastrawan besar Indonesia yang lahir di Blora. Sepatutnya sebagai warga Jawa Tengah kita harus berbangga, bahwa daerah kita telah melahirkan dua sastrawan besar yang mengharumkan nama Indonesia di dunia sastra Internasional.

Kesimpulan

Setelah melalui serangkaian penulisan, berdasarkan pada data tertulis tentang “Eksistensi Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dalam Sastra Dunia”. Penulis menarik kesimpulan :

  1. Ahmad Tohari merupakan sastrawan yang produktif dengan karya-karya khas dan berbobot. Salah satu kekuatan lebih Ahmad Tohari yang sulit ditemukan pada sastrawan lain adalah kepiawaiannya melukiskan alam pedesaan yang eksotis. Ditangannya panorama kehidupan pedesaan menjadi hidup dan menawan.
  2. Ronggeng Dukuh Paruk adalah karya Ahmad Tohari yang paling terkenal. Novel ini mengisahkan seorang peronggeng perempuan yang berjuang untuk keluar dari hitamnya zaman dalam aspek kemanusiaan, penghormatan maupun Hak Asasi Manusia.
  3. Pandangan dunia novel Ronggeng Dukuh Paruk sangat luar biasa, terbukti novel ini telah diterbitkan kedalam lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Jerman, dan bahasa Inggris.

Saran

Penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Hendaknya generasi muda Indonesia lebih menghargai karya anak bangsa, terutama dalam bidang sastra. Novel Ronggeng Dukuh Paruk memberikan kita gambaran bahwa dalam peristiwa politik nasional tahun 1965, tenyata arus konflik yang terjadi di tingkat elit ikut membawa korban bagi masyarakat kecil.
  2. Hendaknya generasi muda Indonesia dapat menjalankan tongkat estafet dalam penulisan karya sastra, sehingga terus lahir sastrawan-sastrawan yang mengharumkan Indonesia di jagad sastra Internasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga.

Rahardi, F. https://frahardi.wordpress.com/polemik/ronggeng-dukuh-paruk/(diakses pada tanggal  29 Oktober. 18:08 WIB).

(Majalah Horison, Edisi Januari 1984).

Ni’am, M.Zuhri. https://www.hasansadili.my.id/2003/01/pengertian-sastra-secara-umumdan.html, (diakses pada tanggal 27 Oktober 2015. 20:18 WIB).

Satomi, Arischa. https://arischasatomi.blogspot.co.id/2013/06/v-behaviorurldefultvmlo.html, (diakses pada tanggal 28 Oktober 2015. 20:33 WIB).

Sa’adah, Zahro. https://www.indonesiagoesfrankfurt.net/dari-penjara-orde-baru-menuju-panggung-sastra-dunia-wawancara-dengan-ahmad-tohari.html, (diakses tanggal 30 Oktober 2015 pukul 21.00 WIB)

Tohari, Ahmad. 2005. Dikaki Bukit Cibalak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tohari, Ahmad.2007. Orang-orang Proyek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tohari, Ahmad.2003. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT