MA Darul Ulum Purwogondo

Jalan Kromodiwiryo Purwogondo RT 05 / RW 01 Kalinyamatan Jepara

Terbentuknya Peserta Didik yang Sholih dan Sholihah

MATERI SEJARAH KEMARITIMAN SEBAGAI MEDIA PENANAMAN SEMANGAT NASIONALISME PADA JIWA PELAJAR

Senin, 06 September 2021 ~ Oleh Muhammad Faizuddin, S.Kom. ~ Dilihat 181 Kali

MATERI SEJARAH KEMARITIMAN SEBAGAI MEDIA PENANAMAN SEMANGAT NASIONALISME PADA JIWA PELAJAR

Oleh : Naila Faza Zulfa

 

Indonesia merupakan negara maritim. Mengapa disebut dengan demikian. Jawabannya cukup sederhana, karena sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang sangat luas, dimana luas wilayah daratannya lebih kecil dari pada luas wilayah perairannya. Secara astronomis, berdasarkan informasi Geospasial, luas wilayah perairan Indonesia yaitu 3.257.489 km², sementara luas wilayah daratannya yaitu 1.922.570 km² yang dihuni oleh ±260 juta jiwa. Hal ini tentunya menjadi salah satu kebanggaan Indonesia di mata dunia. Indonesia menjadi urutan pertama dan terbesar yang termasuk negara maritim, kemudian diikuti Madagaskar, Papua Nugini, dan Jepang. Perairan yang dimiliki Indonesia merupakan salah satu surga dunia, dihuni oleh berbagai macam terumbu karang dan spesies ikan langka yang belum tentu ditemukan di perairan negara lain.

Perairan Indonesia terutama di Selat Malaka juga sudah sejak ratusan tahun lalu menjadi salah satu jalur lalu lintas pelayaran tersibuk di dunia. Hal karena negara Indonesia terletak pada posisi silang (cross position) jalur perdagangan internasional. Secara geografis Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera, yakni benua Australia dan benua Asia serta berada di antara samudera Pasifik dan samudera Hindia. Inilah yang menjadikan Indonesia sangat strategis di mata negara lain.

Indonesia juga disebut sebagai negara kepulauan. Terdapat sekitar 17 ribu pulau yang ada di wilayah Nusantara ini. Karena dari banyaknya pulau di Indonesia otomatis terdapat keragaman ras, suku, agama, dan golongan serta berbagai macam bentuk perbedaan.

Secara historis, Indonesia dan dunia maritim memang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bukti kontribusi antara Nusantara dengan kelautannya adalah sekitar abad ke-7 dan 8. Pada zaman peradaban Hindu-Buddha, Indonesia menjadi pusat pedagangan dunia terutama rempah-rempahnya yang diminati oleh pangsa pasar internasional. Rempah-rempah yang berasal dari Indonesia Timur terutama dari kepalauan Maluku menjadi salah satu rempah-rempah terbaik di dunia. Dengan demikian, wilayah Indonesia sudah sejak lama menjadi pusat perdagangan internasional.

Akan tetapi dalam kenyataannya. Indonesia lebih dikenal sebagai negara agraris/ negara berbasis pada pertanian. Identitas sebagai bangsa maritim terlupakan karena adanya kesalahan dalam kebijakan di bidang pendidikan. Posisi sejarah maritim di Indonesia tidak mempunyai tempat yang jelas. Padahal bukan rahasia umum lagi, integrasi nasional mengenai terbentuknya negara Indonesia tidak bisa dilepaskan interaksi antarsuku yang mempunyai latar belakang budaya dan tradisi yang berbeda tercipta melalui kegiatan perdagangan dan pelayaran (kemaritiman).

Pengetahuan akan kemaritiman seharusnya diajarkan kepada pelajar sejak menempuh jenjang pendidikan dasar hingga menengah, karena jiwa pelajar adalah jiwa generasi bangsa. Apabila kurikulum menerapkan materi sejarah kemaritiman sejak dini maka pemerintah akan mudah untuk membentuk karakter generasi bangsa yang cinta akan tanah air Indonesia (semangat nasionalisme). Tidak hanya itu, materi mengenai sejarah maritim juga bisa dijadikan untuk membangun kesadaran kolektif akan identitas sebagai bangsa lahir dari peradaban laut. Tentunya ini menjadi kebangaan bagi bangsa Indonesia.

Topik pembahasan dalam esai ini penulis memberikan gagasan agar materi sejarah yang berbau kemaritiman lebih dikembangkan lagi. Hal itu mengingat pentingnya posisi sejarah maritim dalam membangun semangat nasionalisme bangsa sekaligus menjadi modal utama untuk mengenal identitas bangsanya sendiri.

Penulisan sejarah di Indonesia dengan tema kemaritiman masih menjadi anak tiri. Hal itu disebabkan oleh karena historiografi di Indonesia lebih banyak dititik beratkan pada tema politik, militer, ekonomi, dan sosial budaya. Tak hanya itu, karya-karya historiografi bertema kemaritiman di Indonesia juga masih minim.

Tentunya hal ini menjadi ironi tersendiri bagi bangsa kita yang terkenal sebagai bangsa pelaut. Indonesia yang selama ini dikenal dengan negara kepulauan justru malah terkenal sebagai negara berbasis pertanian. Ini tentunya menjadi sindiran keras bagi bangsa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa posisi sejarah maritim dalam historiografi Indonesia belum jelas. Padahal keberadaan sejarah maritim menyangkut mengenai terbentuknya asal-usul bangsa Indonesia.

Sebenarnya masalah posisi sejarah maritim dalam historiografi di Indonesia sudah dimulai sejak diterapkannya kurikulum KTSP sampai Kurikulum 2013 saat ini. Dalam kedua kurikulum pendidikan tersebut, posisi sejarah maritim dalam historiografi Indonesia masih belum begitu jelas. Format struktur pada kurikulum 2013 masih agak mendingan dibanding pada kurikulum KTSP menyangkut posisi sejarah maritim. Dikurikulum 2013 khususnya di mata pelajaran sejarah peminatan (hanya program IPS) di kelas 11 semseter 1 posisi sejarah maritim sebagai materi pelajaran disebutkan secara jelas, yaitu mengenai kerjaan maritim di Indonesia. Akan tetapi, untuk posisi sejarah maritim di mata pelajaran sejarah Indonesia lebih parah. Posisi sejarah maritim tidak disinggung sama sekali dalam kurikulum tersebut. Akibatnya siswa pada program IPA dan bahasa tidak mendapatkan materi yang berkaitan sejarah maritim.

Alhasil, dikhawatirkan banyak generasi pelajar Indonesia kesadaran akan identitas bangsanya yang terkenal dengan sebutan bangsa pelaut yang akan terlupakan. Selain itu, arus globalisasi yang semakin kencang dan deras melalui perkembangan teknologi informasi turut memberikan andil terhadap mereduksinya kesadaran nasionalisme berbangsa.

Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa terbentuknya identitas bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa majemuk sangat terkait erat dengan kondisi geografis Indonesia. Laut bukan menjadi penghalang terciptanya integrasi antar suku bangsa, justru melainkan sebaliknya. Laut menjadi media penghubung antarsuku bangsa melalui kegiatan pelayaran dan perdagangan yang sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu.

Seperti yang sudah jelaskan di atas, materi sejarah kemaritiman mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap penanaman jiwa nasionalisme pada pelajar. Gagasan yang diusung dalam tulisan ini yaitu bagaimana materi sejarah maritim dapat dijadikan sebagai fondasi untuk menanamkan karakter cinta pada tanah air. Materi sejarah yang bercerita mengenai romantisme sejarah seperti kejayaan kerajaan berbasis maritim (kerajaan Sriwijaya dan Majapahit) dan kisah pelayaran nenek moyang bangsa Indonesia yang berhasil mengarungi perairan dunia bisa menjadi modal awal bagi peserta didik untuk lebih mengenal identitas bangsanya sendiri.

Perlu ditegaskan kembali, Indonesia sebagai negara bercorak kepulauan sudah waktunya materi sejarah maritim untuk dimuat dan diakomodasi dalam kurikulum pendidikan nasional. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Hal ini terkait dengan upaya untuk mengingat kembali akan sejarah bangsanya sendiri sekaligus sebagai modal utama untuk membangun semangat nasionalisme bangsa.

Wacana mengenai dihapuskannya mata pelajaran sejarah oleh kemendikbud baru-baru ini harusnya bisa menjadi momentum yang tepat bagi para praktisi maupun akdemisi sejarah untuk memberi masukan pada pemerintah terkait dengan posisi materi sejarah maritim dalam kurikulum pendidikan nasional Indonesia.

Simpulan

Sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya. Perlu dilakukan upaya penamaman jiwa nasionalisme atau cinta pada tanah airnya sendiri pada kalangan pelajar di Indonesia. Upaya tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan cara memasukkan materi sejarah maritim dalam kurikulum pendidikan nasional yang dimulai dari pendidikan dasar hingga menengah. Perlunya materi sejarah maritim dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional karena selama posisi sejarah maritim dalam materi ajar belum begitu terang benderang. Padahal, keberadaan materi sejarah maritim mempunyai andil yang besar dalam membangun terciptanya integrasi nasional bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aditya, Willy dan Taufik. 2018. Negara Maritim Indonesia: Takdir Sejarah Kita, https://willyaditya.com/negara-maritim-indonesia-takdir-sejarah-kita/, diakses pada 6 Oktober 2020 pukul 00.00 WIB.

 

Dirhamsyah. 2016. LIPI : Kurikulum Kemaritiman Masuk Dalam Pelajaran, http://lipi.go.id/lipimedia/lipi-:-kurikulum-kemaritiman-masuk-dalam-pelajaran/16687, diakses pada 8 Oktober 2020 pukul 23.00 WIB.

 

Giescha, Seravica. 2019. Indonesia Sebagai Negara Maritim, Apa Maksudnya?, https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/10/162412069/indonesia-sebagai-negara-maritim-apa-maksudnya?page=all, diakses pada 7 Oktober 2020 pukul 21.20 WIB.

 

Muhsin, Mumuh Z. 2015. Sejarah Maritim, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/sejarah-maritim/, diakses pada 9 Oktober 2020 pukul 22.00 WIB.

 

Rahadian, Septa. 2019. Pembelajaran Sejarah Malang Raya Berbasis Contextual Teaching And Learning. Maharsi. Volume 1 Nomor 1. Hal: 99-107.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT